Posted on Mon, 19 Apr 2010
Bahasa Indonesia

Hidup Bebas Luka Hati

Living Free from Offence

Hidup Bebas Luka Hati

Setiap orang pasti pernah mengalami luka hati dan tersinggung. Yesus sendiri mengatakan di Lukas 17:1, bahwa tidak mungkin tidak ada ”offense” yang diterjemahkan sebagai penyesatan. Secara sengaja atau tidak, kita bisa terluka oleh orang lain; dan sebaliknya kita pun bisa melukai orang. Kata-kata yang diucapkan bisa begitu tajam menusuk seperti pedang yang menikam hati dan melukai perasaan (Amsal 12:18).

Paulus mengatakan bahwa di akhir jaman ini, orang-orang Kristen akan mengalami banyak pencobaan dan ujian (1 Petrus 4:12), banyak orang akan menjadi murtad (Matius 24:10). Amplified bible mengatakannya secara lebih mendetil, “… many will be offended and repelled and will begin to distrust and desert [Him whom they ought to trust and obey] and will stumble and fall away”.

Banyak orang akan tersinggung. Akibatnya mereka mulai tidak percaya dan meninggalkan Dia yang seharusnya mereka percayai dan taati. Alkitab sudah mengatakan bahwa di akhir jaman banyak orang akan meninggalkan Tuhan alias murtad. Lebih jauh lagi Matius 24:11-12 mengatakan “Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”.

Akibat sakit hati, orang bisa mengikuti pengajaran sesat. Kasih Allah yang seharusnya melimpah pada orang percaya menjadi dingin. Sebagai gantinya mereka saling mengkhianati dan membenci.

Kita tidak bisa melarang orang untuk tidak melukai kita, tetapi kita bisa menjaga hati dari luka dengan mengambil respon yang tepat di hadapan serangan.

Kita tidak bisa melarang orang untuk tidak melukai kita, tetapi kita bisa menjaga hati dari luka dengan mengambil respon yang tepat di hadapan serangan. Kita harus menjaga agar manusia rohani kita kuat, sebab manusia roh yang kuat sanggup menanggung berbagai serangan dan penderitaan (Amsal 18:14).

Menguasai Emosi atau Dikuasai Emosi?

Kekuatan manusia rohani kita berkaitan erat dengan bagaimana kita menguasai emosi negatif. Tidak ada yang salah mengenai emosi itu sendiri karena Tuhan menciptakan kita dengan  emosi. Emosi bisa positif, bisa negatif. Emosi negatif lah yang akan membawa kita keluar dari kehendak Tuhan. Mengapa? Karena emosi negatif seperti marah, takut, kecewa, putus asa, depresi, frustrasi dan lain-lain tidak selaras dengan firman Tuhan.

Ketika Anda mengijinkan emosi negatif menuntun Anda dalam mengambil keputusan, maka Anda pasti akan melenceng dari rencana Tuhan. Sebaliknya orang yang dapat mengendalikan  emosi negatifnya, orang itu memegang kendali atas hidupnya dan dapat mencapai apapun yang ia kehendaki.

Mungkin Anda tidak sadar bahwa waktu Anda mengijinkan emosi negatif menentukan respon Anda, sebenarnya Anda sedang memberi otoritas dan kuasa kepada emosi untuk duduk dalam tahta kehidupan dan memerintah Anda. Ini artinya:

  • Anda membuka pintu bagi setan untuk masuk ke dalam hidup Anda.
  • Anda menyerahkan kuasa dan otoritas yang Tuhan percayakan kepada Anda kepada setan, akibatnya Anda melakukan kehendak setan.
  • Anda melanggar perjanjian dengan Tuhan. Maleakhi 2:16 menyebutnya sebagai pengkhianat.
  • Anda melarang Tuhan melakukan intervensi dalam hidup Anda. Tuhan tidak mau berkompetisi dengan tuhan-tuhan lain yang Anda pilih atas kehendak Anda sendiri.
  • Anda menjauh dari destinasi Tuhan. Umat Israel seharusnya dapat menyelesaikan perjalanan dalam 40 hari, namun menjadi 40 tahun karena mengijinkan emosi memimpin mereka dengan cara menjadi kecewa, kepahitan, menggerutu dan lupa bersyukur kepada Tuhan.

Yang Menguasai Emosinya adalah Seorang Raksasa

Emosi manusia terletak di jiwa. Orang yang menguasai emosinya adalah orang yang menguasai jiwanya. Penguasaan emosi adalah pilihan. Selama hidup di bumi, Yesus adalah manusia sempurna yang merasakan apa yang kita rasakan dan mengalami pencobaan-pencobaan serta ujian sama seperti kita juga. Meskipun demikian, sejak kelahiran-Nya sampai ke kayu salib, Yesus tidak pernah berdosa sekalipun. Ia memilih untuk tidak berdosa. Ia memilih untuk tidak hidup dipimpin oleh emosi.

Demikian pula Daud. Ia mengalami banyak ketidak-adilan dan penganiayaan, namun dia tidak mengijinkan emosi mengendalikan hidupnya.

Demikian pula Daud. Ia mengalami banyak ketidak-adilan dan penganiayaan, namun dia tidak mengijinkan emosi mengendalikan hidupnya. Daud tidak mengijinkan kepahitan atau dendam menetap di hatinya. Setiap kali dirundung masalah, Daud memilih mendekat kepada Tuhan untuk solusinya.

Ini membuat Daud berhasil mencapai destinasinya mengalahkan raksasa Goliat dan menjadi raja atas seluruh Israel. Orang-orang yang menguasai jiwa mereka adalah raksasa-raksasa di dalam diri mereka.  

Demikian juga dengan Yusuf. Dia bisa sakit hati, marah dan kecewa akibat semua yang dialaminya di lubang sumur, di rumah Potifar dan di penjara; namun dia memilih untuk tidak memberi tempat pada kepahitan, kekecewaan dan dendam dalam hatinya.

Bereskan Luka Hati

Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri
- Amsal 18:19

Kebanyakan orang Kristen hanya menutup luka hati mereka dan bukannya membereskannya. Mereka menutup luka hati dengan cara membangun kubu-kubu untuk melindungi diri agar tidak terluka lagi. Mereka digerakkan oleh ketakutan, bukan oleh iman.

Luka hati tidak akan beres tanpa Tuhan. Dia menjanjikan kesembuhan saat kita datang dan menyerahkan luka hati kepada-Nya. Kasih Allah yang sempurna akan membalut dan menyembuhkan segala luka hati kita (Mazmur 147:3).

Allah sanggup menyembuhkan secara total, asal kita memilih untuk menundukkan diri sepenuhnya kepada ke-Tuhan-an Yesus Kristus dengan menjadikan Yesus sebagai satu-satunya Tuhan atas roh, jiwa dan tubuh kita. Kita tundukkan emosi negatif kita pada emosi ilahi yang penuh kasih, rendah hati, kesabaran, pengampunan.

Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!
- Yakobus 4:7

Ayat ini secara gamblang mengatakan bahwa Iblis hanya akan lari meninggalkan kita dengan syarat, yaitu kita tunduk kepada Allah. Kita menundukkan tidak saja roh, tetapi jiwa (termasuk emosi) dan tubuh kita kepada-Nya. Ketika kita menyerahkan emosi kita, maka kita sedang tunduk kepada-Nya. Daging kita mungkin menjerit, tetapi jeritan sakit karena tunduk kepada Allah tidak ada artinya dibandingkan sakit akibat mengijinkan emosi yang memimpin Anda pada keputusan yang salah.  

Merdeka dari Sakit Hati

Tuhan Yesus sendiri mengatakan di Lukas 10:19, bahwa tidak ada apapun yang akan membahayakan dan melukai kita. Jadi, seharusnya orang Kristen adalah orang yang paling aman di dunia.

Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.
- Lukas 10:19

Mengapa? Karena kuasa dan otoritas Tuhan serta perlengkapan senjata Allah sudah diberikan kepada setiap orang percaya. Namun sayangnya, banyak orang Kristen tetap terluka karena tidak tahu bagaimana menggunakan perlengkapan yang sudah Tuhan berikan.
    
Amplified Bible menterjemahkan Lukas 10:19 sebagai berikut: Dia telah memberikan kepada kita otoritas dan kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking, serta kekuatan dan kemampuan fisik dan mental atas semua kekuatan musuh dan tidak ada suatupun yang akan membahayakan kita.

Behold! I have given you authority and power to trample upon serpents and scorpions, and [physical and mental strength and ability] over all the power that the enemy [possesses]; and nothing shall in any way harm you.
- Luke 10:19 (Amplified)

Bagaimana caranya?

Pilihan untuk memakai otoritas dan kuasa Tuhan terletak di tangan kita. Tuhan Yesus sudah merebut kuasa itu kembali dari Iblis, Dia telah membayar dengan darah-Nya sendiri dan kemudian memberikanya kepada kita. Jadi, caranya adalah:

  • Lepaskan pengampunan kepada semua orang yang telah melukai Anda. Jangan membalas dendam tetapi berjalanlah dalam kasih Allah.
  • Jangan hidup di masa lampau, jangan fokus pada rasa sakit yang telah Anda alami.
  • Usahakan supaya Anda layak di hadapan Allah (2 Timotius 2:15)
  • Jangan pakai jubah emosional, tetapi kenakanlah jubah puji-pujian.
  • Pergunakan perisai iman.

Berjalan Dalam Kasih

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. – 1 Yohanes 4:18

Ketakutan dan kasih tidak dapat berjalan beriringan. Sebagaimana kasih yang sempurna melenyapkan segala ketakutan, kasih yang sempurna juga melenyapkan segala luka hati dan emosi negatif. Tanda orang Kristen yang dewasa rohani adalah berjalan di dalam kasih-Nya di tengah-tengah rasa sakit dan terluka.

Karena itu sangat penting bagi kita mencari Tuhan. Waktu Anda sungguh-sungguh mencari Tuhan, kasih Tuhan akan menghasilkan emosi yang sehat di dalam diri Anda. Karena kasih menutupi banyak pelanggaran. – Amsal 10:12b.

Tinggalkan Masa Lampau

Lepaskan masa lampau Anda, jangan membawa terus beban dan trauma masa lampau ke masa depan. Istri Lot tetap menoleh ke belakang walaupun sudah diperingatkan untuk tidak melakukannya. Akibatnya istri Lot mati menjadi tiang garam, dia dimusnahkan bersama dunia.

Tetapi isteri Lot yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. Ingatlah akan istri Lot! – Kejadian 19:26, Lukas 17:32

Anda tidak pernah bisa menerima kesembuhan jika Anda tetap memegang erat-erat masa lampau Anda. Ambil sikap seperti rasul Paulus, yang melupakan apa yang telah di belakangnya dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:13-14).

Pergunakan Perisai Iman

Senjata utama untuk menangkis serangan musuh adalah perisai iman. Efesus 6:16 memberi instruksi kepada kita untuk mempergunakan perisai iman dalam segala keadaan. Perisai iman akan memadamkan semua panah api dari si jahat. Tidak ada perisai iman tanpa firman Allah karena iman sama dengan firman Allah (Ibrani 11:1, Roma 10:17).

Setan menyerang kita dengan panah berapi. Bahkan dalam Amplified Bible dipakai istilah rudal berapi (flaming missiles).

Setan menyerang kita dengan panah berapi. Bahkan dalam Amplified Bible dipakai istilah rudal berapi (flaming missiles). Panah-panah api setan ditembakkan kepada kita dalam bentuk kekecewaan, tersinggung, amarah, sakit hati. Setan tahu bahwa iman kita tidak akan bekerja selama masih ada luka hati atau tersinggung yang belum dibereskan. Setan ingin merampok kita dari destinasi dan janji-janji Allah bagi kita. Setan ingin kita hidup dalam kekalahan.

Setan terus menerus menembakkan panah-panah apinya, karena itu kita harus siap mengangkat perisai iman setiap waktu, artinya mempergunakan firman Allah yang cocok dengan situasi saat itu. Supaya panah api yang ditembakkan setan terhadap kita tidak berhasil, karena panah api itu padam sebelum mengenai kita.

Kata perintah dalam Efesus 6:11-18, ”kenakanlah”, ”ambillah” dan seterusnya adalah kata-kata kerja aktif. Berarti Anda yang harus melakukannya, bukan Tuhan atau orang lain yang melakukannya bagi Anda.

Bagaimana Anda mengenakan perlengkapan senjata Allah, terutama perisai iman untuk menangkis panah api dari si jahat? Dengan cara memperkatakan firman Tuhan untuk melawan pemikiran-pemikiran yang dilemparkan oleh setan. Setiap kali Anda dengan iman memperkatakan firman yang tepat, maka Anda sedang menegakkan perisai iman di dalam hati Anda. Perisai itu menjaga Anda dari serangan si jahat.

Ke-Tuhan-an Yesus Kristus.

Jangan lindungi emosi Anda, tetapi lindungilah masa depan Anda. Emosi negatif pasti  memimpin Anda pada keputusan yang salah yang akan Anda sesali seumur hidup. Perasaan dan emosi Anda akan selalu berubah tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Lindungi masa depan Anda dengan mengambil keputusan-keputusan yang benar berdasarkan logika dan emosi positif. Tetapi di atas itu semua, mintalah hikmat dari Tuhan untuk memimpin Anda dalam membuat keputusan.

Ketika kita datang kepada-Nya, maka kasih Allah yang sempurna dapat menyembuhkan segala luka dan sakit hati kita (Mazmur 147:3). Dedikasikan kembali hidup Anda kepada satu-satunya Tuhan, yaitu Yesus Kristus.

Ingatkan diri Anda bahwa Jehovah adalah satu-satunya Tuhan dan sumber Anda. He is the source, sumber utama yang berkuasa menggerakkan sumber-sumber lain (resources) untuk menolong Anda. Hanya kepada-Nya kita harus berharap dan bergantung.  

Every one of us must have experienced offences and hurt feelings. Jesus Himself says in Luke 17:1 that offenses, also meaning deception, are bound to come. Whether intentionally or not, other people can hurt us, and conversely we too can wound others. The words one speaks can be so sharp and piercing like a sword that stabs the heart and hurt others’ feelings (Proverbs 12:18).

Apostle Paul says that in the endtimes, Christians will go through fiery ordeals and trials (1 Peter 4:12), and that many of them will be offended and turn away from their faith (Matthew 24:10). Amplified Bible goes into more detail about this, “… many will be offended and repelled and will begin to distrust and desert [Him whom they ought to trust and obey] and will stumble and fall away”.

Many people will be offended. As a result they will begin to lose their faith and turn away from Him who they should actually trust in and obey. The Bible has stated that in the endtimes that many people will turn away from God or backslide. Moreover Matthew 24:11-12 states that ”And many false prophets will rise and deceive many. And because iniquity shall abound, the love of many will become cold”.

Because of hurt feelings, people can follow false teachings. The love of God that should be abundant in believers becomes cold. Instead they betray and hate one another.

We cannot command others not to hurt us, but we can guard our hearts from offences by adopting the right response in the face of attacks. We must maintain our spirit man to remain strong, because a strong spirit will withstand sickness and adversity (Proverbs 18:14).

Do you control emotions or do emotions control you?

The strength of our spirit man is strongly related to how we master our negative emotions. There is nothing wrong about the emotion itself because God created us to have emotions. Emotions can be positive or negative. It is the negative emotions that will steer us away from God’s will. Why? Because negative emotions , for example anger, fear, disappointment, desperation, depression, frustration, etc are not aligned with God’s word.

When you allow negative emotions to rule how you make decisions, you will certainly deviate from the plans of God. Conversely, those who can master their negative emotions hold the control over their lives and will be able to achieve whatever they desire.

Perhaps you do not realise that when you allow negative emotions to determine your responses, you are actually giving authority and power to emotions to sit on the throne of your life and rule you. This means:

  • You open the door for satan to come into your life
  • You surrender power and authority that God entrusts you with to satan, as a result you carry out the will of satan.
  • You breach your covenant with God. Malachi 2:16 calls this as treachery.
  • You prohibit God from intervening in your life. God will not compete with other gods that you choose out of your own will.
  • You turn away from the destination of God. The Israelites could have finished their journey in the desert in just 40 days, but instead it took 40 years because they allowed emotions to control them, by them becoming frustrated, bitter, complaining and forgetting to be grateful to God.

Those Who Master Their Emotions Are Giants

Our emotions are in our souls. Those who can master their emotions are those who master their souls. To master our emotions is a choice. During his lifetime on earth, Jesus was a perfect man who felt what we feel and experienced temptations and trials just as we do. However, from His birth to His death on the cross, Jesus never sinned once. He chose not to sin. He chose not to live ruled by His emotions.

It was the same with David. He experienced much injustice and persecution, but he did not allow his emotions to control his life. David did not allow bitterness or vengefulness to take root in his heart. Everytime he faced a problem, David chose to draw near to God for the solution.

This enabled David to succeed in achieving his destination to conquer the giant Goliath and to be king over all Israel. Those who master their souls are giants inside themselves.

This was also true with Joseph. He could have harbored grudges, became angry and bitter because of all that he went through in the pit, in Potiphar’s house, in the prison; but he chose not to give a place for bitterness, frustration and vengefulness in his heart.

Deal with Offenses

A brother offended is like a strong city; and their disagreements are like the bars of a fortress.
– Proverbs 18-19

Most Christians cover up their hurt feelings instead of dealing with it. They do so by building walls to protect themselves from being hurt again. They are moved by fear, not by faith.

The wounds of the heart will not heal without God. He promised us healing when we come and surrender our hurts to Him. The perfect love of God will bind and heal all our wounds
– Psalms 147:3

God is able to heal us totally, as long as we choose to submit ourselves fully to the Lordship of Jesus Christ by making Him as the only God over our spirit, soul and body. We submit our negative emotions to the godly emotions that are full of love, humility, patience, mercy.

Therefore submit yourselves to God. Resist the devil, and he will flee from you.
– James 4:7

This verse explicitly states that the devil will only flee from us on one condition: when we submit ourselves to God. We submit not only our spirit, but also our soul (including our emotions) and our body to Him. When we surrender our emotions, then we are in submission to Him. Our flesh may scream, but the pain due to our submission to God is nothing compared to the pain due to allowing our emotions to lead us to making the wrong choice.

Freedom from offence

Jesus Himself says in Luke 10:19 that nothing will in any way endanger and hurt us. Therefore, Christians should be the most secure people on earth.

Behold, I give to you authority to tread on serpents and scorpions, and over all the authority of the enemy. And nothing shall by any means hurt you.
– Luke 10:19

Why? Because God’s power and authority, as well as God’s armour and weapons had been given to every believer. But the sad thing is many Christians remain hurt and wounded because they do not know how to use all that God had given them.

Amplified Bible explains it like this:

Behold! I have given you authority and power to trample upon serpents and scorpions, and [physical and mental strength and ability] over all the power that the enemy [possesses]; and nothing shall in any way harm you.
– Luke 10:19 (Amplified)

How?

The choice to exercise the authority and power of God is in our hands. Jesus had seized that authority back from the devil, He had paid with His own blood and then gave the authority to us. So, we should do the following:

  • Release forgiveness to all people who have hurt you. Do not take revenge but walk in God’s love.
  • Do not live in the past, do not focus on your pain.
  • Do your best to present yourself approved unto God (2 Timothy 2:15)
  • Do not wear the cloak of emotions, but wear the cloak of praise.
  • Arm yourself with the shield of faith

Walk In Love

There is no fear in love, but perfect love casts out fear, because fear has torment. He who fears has not been perfected in love.
– 1 John 4:18

Fear and love cannot walk together hand in hand. As perfect love casts out fear, it also casts out wounds of the heart and negative emotions. The mark of a Christian who is spiritually mature is walking in His love despite the pains and hurts.

Therefore, it is very important that we seek God. When you seek God earnestly, God’s love will produce healthy emotions in you. Because love covers all sins.
– Proverbs 10:12b

Release The Past

Let go of your past, do not keep carrying the burdens and traumas of your past into your future. Lot’s wife kept looking back although she had been warned not to do it. As a result she became a pillar of salt, she was destroyed with the world.

But his wife looked back from behind him, and she became a pillar of salt. Remember Lot’s wife!
– Genesis 19:26, Luke 17:32

You can never receive healing if you keep holding on tightly to your past. Adopt an attitude like Paul’s, who commit himself to forgetting the things behind and reaching forward to the things before, pressing toward the mark for the prize of the high calling of God in Christ Jesus (Philippians 3:13-14).

Use The Shield Of Faith

The main weapon to defend ourselves against the attacks of the enemy is the shield of faith. Ephesians 6:16 instructs us to take up the shield of faith and use it in every situation. The shield of faith will quench all the fiery darts of the wicked. There is no shield of faith without the word of God because faith equals to the word of God (Hebrews 11:1, Romans 10:17).

Satan attacks us with fiery darts. Amplified Bible even uses the term flaming missiles. The fiery darts of satan are shot off to us in the form of frustration, hurt feelings, anger, bitterness. Satan knows that our faith will not work as long as there are still hurts or wounds that we haven’t dealt with yet. Satan wants to rob us from the destinies and promises of God for us. Satan wants us to live in defeat.

Satan keeps shooting his fiery darts, so we must be ready to lift up our shield of faith anytime, which means using the word of God that fits the situation at that time. So that the fiery darts directed at us by satan will not harm us, because the fire dies out before they hit us.

The instructions in Ephesians 6:11-18, ”put on”, ”take” and so on are active verbs. This means that we ourselves have to take action, not God or others doing it for us.

How do you put on the whole armor of God, especially the shield of faith to fend off the fiery darts of the wicked? By way of confessing the word of God to fight against the thoughts that satan throws at us. Everytime you confess with faith the right scriptures for your situation, you are establishing the shield of faith in your heart. The shield guards you from the attacks of the devil.

The Lordship of Jesus Christ.

Do not protect your emotions, but protect your future. Negative emotions will lead you to make wrong decisions that you will regret for the rest of your life. Your feelings and emotions will always change depending on the situations and conditions you are in. Protect your future by making the right decisions based on logic and positive emotions. But above all, ask for wisdom from God to lead you in making decisions.

When we come to Him, the perfect love of God will heal all our wounds and hurts (Psalms 147:3). Rededicate your life to the one and only God, Jesus Christ.

Remind yourself that Jehovah is your only God and source. He is the source, the main source that has the power to move other sources (resources) to help you. We should only hope in and depend on Him.

Do you like this post?

Announcement

Be Our Partners

Visi Allah membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Kami percaya, perjanjian kemitraan (covenant partnership) dengan suatu pelayanan akan menghasilkan kuasa yang luar biasa. Aktifkan hukum Kemitraan ini dalam hidup Anda segera! Berpartner dengan kami.

blog comments powered by Disqus