Jika kamu menemukan mesin waktu, apa yang akan kamu lakukan? Dan, jika kamu punya kesempatan kembali ke masa lalu, ke masa mana kamu akan kembali?
Dukuh Atas, Jalan Sudirman, Jakarta. Pertengahan Mei 2010
Saya buru-buru melompat ke dalam taksi, “Proklamasi, pak. Lewat Manggarai,” kata saya.
Lalu saya menyenderkan punggung. Sejenak memejamkan mata mengingat hal-hal yang harus saya lakukan hari ini. Sampai suara “sember” sang sopir memecah keheningan.
“Di mana-mana jalan macet, Neng,” ucapnya. “Banyak demo.”
“Oh ya?” Alis saya berkerut. Berusaha keras mengingat ini hari apa. “Oh, sepuluh tahun lalu kan Soeharto lengser,” jawab saya ketika berhasil mengingat. “Ah, zaman sekarang ini memang nggak enak. Apa-apa susah. Cari makan susah. Cari pekerjaan susah. Lebih enak zaman Soeharto dulu, kan semuanya makmur,” katanya dengan nada dongkol.
Zaman sekarang ini memang nggak enak. Apa-apa susah. Cari makan susah. Cari pekerjaan susah. Lebih enak zaman dulu...
Dahi saya langsung berkerut. Pikiran saya menolak. Tapi saya memilih mendengarkan pendapatnya. “Coba, apa yang dihasilkan sekarang? Jalan tol, gedung-gedung, yang membangun kan Soeharto. Sekarang orang miskin tambah banyak, cari duit susah,” keluhnya bertubi-tubi.
Tanpa bermaksud membela pemerintah yang sekarang, muncul argumentasi di pikiran saya: tentu saja jumlah orang miskin bertambah, karena tiap tahun jumlah penduduk bertambah. Tapi percuma berdebat. Saya memilih diam, nanti kalau sudah capek bicara dia bakal diam. Mungkin dia lelah dengan beban ekonominya. Orang tipe begini hanya perlu didengarkan. Tidak perlu lagi diceramahi. Dia capek menanggung kehidupan. Tapi dia terus saja bicara dan mengagung-agungkan masa lalu.
“Pak,” akhirnya saya bicara, dengan nada lembut. “Tidak sepenuhnya zaman dulu itu enak. Sebenarnya, tiap zaman itu ada pahit manisnya juga. Sama saja seperti sekarang,” tutur saya.
Bukannya dia menjadi semakin tenang, kedongkolannya semakin memuncak. Dia semakin memuji-muji pemerintahan orde baru yang menurut dia sukses dengan kemakmurannya.
Kenapa sih, orang ini “ngebet” sekali ingin kembali ke masa lalu?
Siapa yang tidak pernah ingin kembali ke masa lalu? Masa-masa sulit, selalu membuat kita menoleh ke belakang, ke saat-saat yang nyaman.
Saya pun pernah mengalaminya. Saya pernah hidup tidak kekurangan. Tidak usah berpikir hari ini bakal makan apa, semua tersedia. Saya tinggal menadahkan tangan dan uang mengalir ke kocek saya. Mobil dan sopir tersedia. Mau makan dan minum tinggal panggil pembantu di rumah, dan mereka buru-buru menyediakannya di meja makan saya. Arloji merek terbaru. Mobil keluaran terbaru. Saat parabola masih menjadi barang mewah dan langka, di rumah saya payung besi raksasa terbalik itu sudah nongkrong. Semua orang di sekolah mengenal siapa saya dan keluarga saya.
Kesulitan yang datang bertubi-tubi memang bisa membuatmu mempertanyakan makna hidup dan di mana Tuhan
Kata pepatah, hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, dan satu waktu di bawah. Krisis ekonomi menghajar semuanya. Bahkan rumah pun saya tidak punya. Tinggal harus mengontrak dari satu rumah ke rumah lain. Impian untuk sekolah di luar negeri pupus sudah. Saat-saat itu, betapa saya mengutuki hidup.
Kesulitan yang datang bertubi-tubi memang bisa membuatmu mempertanyakan makna hidup dan di mana Tuhan. Saya mengerti rasanya. Betapa menyakitkan jika kamu pernah memiliki kenyamanan dan tiba-tiba semuanya hilang begitu saja. Saat itu, saya begitu ingin mengubah sejarah. Saya ingin kembali ke masa lalu.
Pertanyaan saya: “Tuhan, jika Kau memang ada, kenapa Kau biarkan aku menderita?” Tanpa saya sadar, hidup tengah memberikan bab pelajaran baru dalam perjalanan kehidupan saya. Saya belajar hidup sederhana. Saya belajar rendah hati. Saya belajar naik angkot. Saya bicara pada pedagang kaki lima dan pengemis. Saya mengenali siapa-siapa yang tetap bersama saya ketika kehidupan memasuki masa kegelapan. Saya menemukan teman-teman sejati saya, yaitu orang-orang yang menarik saya dari kegelapan dan membuat saya kembali mencintai kehidupan.
“Segala sesuatu yang kamu alami tak akan pernah melebihi kekuatanmu,” kata seorang teman di Jogja.
“Lalu kenapa Tuhan diam saja ketika saya menderita?” saya bertanya.
“Dia mengizinkan segala sesuatu terjadi untuk membentukmu menjadi sesuatu yang Dia siapkan. Suatu saat, kamu akan bertemu dengan orang-orang yang mengalami hal yang serupa. Dan kamu akan membagi pengalaman hidupmu pada mereka,” kata teman saya.
Milikilah harapan. Harapanlah yang membuat kamu hidup, bukan hidup itu sendiri. Saat kamu berjalan bersama Tuhan, kamu akan selalu menemukan harapan itu.
Teman saya benar. Saya bisa melaluinya. Hidup terus berjalan. Perubahan terjadi. Tantangan hidup selalu ada, tapi saya tahu di mana kekuatan sejati saya. Saya bisa memilih: hidup dengan hati yang ditawan masa lalu, atau bergerak menerobos masa depan dengan harapan. Pikiran adalah mesin waktu itu. Saya punya pilihan menekan tombol off yang menyeret saya ke masa lalu. Dan menekan tombol on untuk menjalani hidup sekarang.
Napas saya masih berhembus. Jantung saya masih berdetak. Sampai saat ini. Saya memutuskan untuk tidak kembali ke masa lalu. Sama sekali.
Written by: NI




.jpg)





.jpg)


