Lima orang tewas bunuh diri dengan menjatuhkan diri mereka dari ketinggian menjelang akhir 2009. Tiga orang mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari pusat perbelanjaan. Seorang melompat dari jembatan. Satu orang melompat dari atap bangunan.
Media memberitakan, si A memilih mati mengenaskan karena menderita depresi, si B punya sakit yang tak kunjung sembuh, si C karena mabuk, si D juga depresi, dan si E karena malu menjadi korban perkosaan. Fenomena yang menjadi buah bibir karena terjadi dalam kurun waktu berdekatan. Entah kenapa mereka memilih demikian. Padahal semua agama mengharamkan cara mati demikian.
Saya jadi ingat sebuah film televisi yang bercerita tentang seorang pemuda biasa yang bisa mengubah nasib melalui sebuah koran. Mungkin kamu pernah menontonnya? Tiap pagi pemuda itu selalu menemukan sebuah koran di depan pintu apartemennya. Anehnya, koran itu tidak memberitakan peristiwa yang sudah terjadi, sebagaimana koran secara normalnya. Tapi justru peristiwa pada keesokan hari—yang belum terjadi dan justru akan terjadi hari itu. Bila pemuda itu menemukan berita tak menyenangkan, dia segera melacak lokasi kejadian, mencari pelaku dan mencegah si korban mengalami kejadian tak menyenangkan itu.
Ada sebuah episode, ketika pemuda itu mencegah seseorang bunuh diri dari atap pencakar langit. Dengan segenap tenaga dia mencari orang itu. Lalu dia berusaha menjadi temannya. Dia mengajak bicara, mengobrol, melunakkan hati yang hancur, dan menawarkan semangat dan harapan hidup. Lalu orang itu pun mengurungkan niat mati. Pemuda itu berhasil mengubah berita buruk di koran ajaib itu. Happy ending.
Saya kadang berharap, itu bisa terjadi di dunia nyata.
Apa yang terjadi jika Superman, Spiderman dan Batman benar-benar ada? Atau koran ajaib semacam itu? Apakah mereka akan mencegah orang-orang itu bunuh diri? Ketika tubuh mereka terjatuh, tiba-tiba sekelebat bayangan menyambar dan menaruh mereka dengan selamat di pelataran gedung. Seandainya pahlawan super itu ada. Dunia membutuhkannya.
Adakah?.... Si pencipta tokoh mungkin menciptakan karakter pahlawan super karena mengharapkan hal yang sama dengan yang saya bayangkan. Seandainya dunia menjadi lebih baik.
Perlahan saya mulai menemukan benang merahnya. Para pahlawan super itu pun mulanya manusia biasa. Mereka tiba-tiba mempunyai kekuatan super karena suatu peristiwa yang mengubah kehidupan mereka. Dan... kazaaamm... Hidup mereka berubah. Mereka terpanggil menyelamatkan dunia.
Satu adegan dalam film Spiderman. Sang tokoh utama mengenang perkataan pamannya sebelum meninggal. “Kekuatan besar disertai dengan tanggung jawab yang besar.”
Di mana para pahlawan di dunia bukan komik, film dan dongeng ini?
Kamu bisa menjadi pahlawan. Kita semua bisa. Muda dan tua. Anak-anak dan dewasa.
Ya, ya. Saya tahu kamu tertawa. Dahimu berkerut. Mungkin kamu bilang, saya gila dan terlalu banyak nonton film. Tidak, saya serius. Bukankah kita juga mengalami suatu peristiwa yang mengubah kehidupan kita? Bukankah kita mengalami pertemuan secara pribadi dengan Tuhan? Bukankah itu mengubah kehidupan kita? Bukankah iman membawa kita mengalami satu keajaiban ke keajaiban lain?
Kita – orang Kristen – adalah duta besar Allah, yang mesti melangkah keluar dari tembok gereja. Yesus pun tidak membangun gedung, namun memberikan waktu-Nya dan membangun kehidupan orang-orang di sekitar-Nya. Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai duta besar-Nya?
“Kamu adalah garam dunia... Kamu adalah terang dunia....” (Matius 5:13,14)
Tak perlu kekuatan super. Tak perlu koran ajaib yang bisa memprediksi kejadian buruk di masa depan. Tak perlu keahlian merayap di gedung pencakar langit, terbang melawan gravitasi, dan otot sekuat baja. Cuma kepekaan.
Ketika melihat sahabat murung dan mendadak tak banyak bicara, kita bisa menyediakan waktu untuk mendengarkan.
Ketika teman membutuhkan bantuan, kita bisa menawarkan nasehat dan solusi.
Ketika orangtua kewalahan mengerjakan pekerjaan rumah, kita bisa menawarkan bantuan meringankan pekerjaan.
Ketika tetangga kebingungan dan kesepian, kita bisa menjadi teman bicara.
Memberikan perhatian dan hormat kepada atasan ketika mereka berbicara.
Ketika office boy memberikan apa yang kita butuhkan, kita bisa mengucapkan terima kasih. Dia akan merasa dihargai.
Kita bisa meluangkan waktu untuk menghibur dan berbincang-bincang dengan orang lanjut usia di panti jompo, atau bermain bersama anak-anak yatim piatu. Membagikan cerita-cerita inspiratif dan memberikan harapan.
Ketika anak-anak menangis, kita bisa memberikan pelukan dan menceritakan hal lucu yang membuat mereka kembali tertawa.
Menjenguk yang sakit dan memberikan semangat hidup.
Menyampaikan kata-kata penghiburan bagi yang ditinggalkan.
Mungkin ini hal-hal yang kecil. Remeh. Tapi tindakan sekecil apapun, tak akan sia-sia. Ketika kita mengerjakan bagian kita, bukankah Tuhan mengerjakan bagian-Nya?
Kita tak pernah tahu, apa yang kita lakukan mungkin menjadikan kita sebagai pahlawan dalam hidup mereka. Bukankah seorang pahlawan sejati tak pernah memanggil dirinya sendiri pahlawan? Orang lainlah yang menobatkannya.
Tindakan sekecil apapun, mungkin bisa mengubah sejarah hidup seseorang. Kita tak pernah tahu sampai kita melakukannya.
Mari, ambil waktu sejenak, lihat sekelilingmu, pasang antena kepekaanmu....pasti ada seseorang di sekitarmu, yang kepadanya kamu bisa berikan waktu dan membangun harapannya kembali. Melalui kamu, orang lain bisa mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan....seperti yang pernah kamu alami juga.
Written by NI











.jpg)


