Posted on Sat, 16 Apr 2011
Bahasa Indonesia

Kecil-kecil Preman

Kecil-kecil Preman

Oleh: Nieke Indrietta

Anak lelaki itu masih bau kencur. Umurnya paling banter 14 tahun. Mengenakan kaos kumal abu-abu dan celana pendek coklat. Berdiri di tengah jembatan penyeberangan busway di depan Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Matahari menyalak dari langit ketika saya lewat di depannya.

Tiba-tiba anak itu menghadang dengan merentangkan kedua lengannya. “Mbak, minta uang buat makan,” katanya.

Saya terkejut bukan kepalang. Jantung mendadak berdebar kencang. Hari masih terang. Tapi hanya ada saya dan dia di jembatan penyeberangan pada tengah hari itu. Tuhan tolong, bisikku dalam hati. Lalu muncul keberanian entah darimana. Jemari saya terangkat dan menyentuh punggung tangannya. Dengan lembut saya menurunkan tangan kanannya yang terentang. Saya melempar senyum padanya.

“Masih kecil, jangan memalak orang ya, Dek.” Kemudian saya melangkah meninggalkan dia yang mematung. Sempat muncul kekhawatiran kalau dia mengejar dan melakukan kekerasan. Untunglah, dia hanya terpaku.

Jantung saya sebenarnya masih berdegup kencang. Kaget juga ada anak kecil sudah menjadi preman. Menodong di tengah jembatan. Apa dia nggak sekolah? Ini masih jam sekolah. Apa orangtuanya tahu dia melakukan kejahatan? Gila memang zaman sekarang. Kalau kecil sudah berani begini, gimana nanti besarnya?

Jangankan anak orang miskin. Anak pejabat saja bisa masuk penjara, terlibat narkoba, tawuran. Yang sudah dewasa jadi koruptor, masuk televisi, fotonya dimuat di koran. Lalu kita menyalahkan pemerintah dan sistem hukumnya yang tidak tegas. Menyalahkan kemiskinan dan sistem ekonomi. Menyalahkan guru, sekolah dan sistem pendidikan. Kita selalu menyalahkan orang lain.

Kita lupa. Semuanya berawal dari keluarga. Dari peran seorang ayah.

Rick Warren bilang begini lewat status Twitter-nya: “In the poorest slums on earth I’ve learned that gangs and violence are not created by poverty but by the absence of fathers.

Seseorang bisa saja mempunyai ayah. Tapi apakah ayah melakukan perannya dalam keluarga? Atau ia menyerahkan peran mendidik anak hanya pada ibu? Apakah ayah berbicara akrab dengan anak-anaknya seperti seorang sahabat, mentor sekaligus pelindung? Apakah ayah bertindak tegas sekaligus lemah lembut?

Saya ingat, ayah sayalah yang membuat saya tergila-gila pada musik, seni dan buku. Ayah saya banyak mempengaruhi cara berpikir saya. Sosok ayah saya membentuk siapa saya. Ayah saya memang tidak sempurna. Tapi saya punya Ayah di Surga yang sempurna. Itu lebih dari cukup.

Kalau kamu punya ayah yang tidak sempurna, atau bahkan tidak punya ayah; jangan khawatir, tataplah ke atas, Ayahmu yang di Surga begitu sempurna. Ia selalu menjaga dan melindungimu. Telinga-Nya selalu tersedia untuk mendengar ceritamu. Tangan-Nya tak akan membiarkanmu jatuh tergeletak.

Dan kalau Anda seorang ayah, saya mewakili anak, ingin bilang: tiap orang merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Sosok seorang ayah menentukan akan menjadi seperti apa anaknya kelak. Sosok seorang ayah menentukan generasi mendatang. Sosok seorang ayah menentukan nasib bangsa.

Miliki pengajaran ‘Bagaimana Menaklukkan Gunung Keluarga’. Mari kita genapi Maleakhi 4:5-6, membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya. Jangan biarkan generasi ini menjadi generasi tak berbapa. Rebut kembali keluarga Anda! Hubungi segera 021-2555 4646 (Agoestine/ Marlin - Selasa - Jumat 9.00 sampai 17.00)

Do you like this story?

Announcement

Be Our Partners

Visi Allah membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Kami percaya, perjanjian kemitraan (covenant partnership) dengan suatu pelayanan akan menghasilkan kuasa yang luar biasa. Aktifkan hukum Kemitraan ini dalam hidup Anda segera! Berpartner dengan kami.

blog comments powered by Disqus