Mengingat kasus video porno mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari, beserta kesulitan bagaimana menyelesaikan masalah ini: apakah pemain adalah asli artis-artis terkenal tersebut, dari mana asal penyebaran video, dan lain-lain. Saya pikir, kok masalah seperti ini berlarut-larut. Bahkan sampai ke media lintas negeri. Susah sekali sepertinya menemukan pemecahannya.
Saya pun menerawang. Ke dunia khayal yang menumpuk di otak kanan saya. Ke dunia masa kecil, ketika saya dapat berkhayal tanpa digunjingkan orang dewasa. Saya berpikir tentang Detektif Conan. Oh, andai saja Detektif Conan benar-benar ada, pasti kasus dapat terpecahkan dalam maksimal tiga hari. Ini sudah berbulan-bulan tidak selesai-selesai.
Detektif Conan – bagi yang tidak tahu – adalah tokoh komik ciptaan Aoyama Gosho. Tokoh itu adalah seorang anak SMU yang sekaligus seorang detektif muda. Kasus-kasus sulit telah dipecahkannya. Dan dengan sangat mudah ia dapat membuat menganalisa.
Yah, saya pikir, kalau saja Detektif Conan benar ada, pasti masalah video porno tidak serumit ini. Ah, saya sedang berangan-angan. Tak apa, bukan? Lalu saya berpikir, well…, tokoh ya hanya sekedar tokoh. Fiksi. Tapi siapa yang lebih hebat dari Detektif Conan, adalah otak di balik tokoh tersebut.
Si pencipta tokoh: Aoyama Gosho.
Seringkali saya berpikir bahwa tokoh-tokoh khayalan di dunia manga itu nyata. Ternyata saya tidak sendirian. Banyak juga yang berkhayal andai Doraemon itu benar ada, andai SpongeBob dan rumah nanasnya benar-benar ada. Oh, lucu sekali memang. Tapi mungkin kita terlalu sering berkhayal.
Lupa, kalau tokoh-tokoh itu adalah wujud dari pemikiran dan otak si pencipta. Saya mengagumi tokoh, tapi lupa tokoh tersebut hanyalah hasil kreatifitas pemikiran si pencipta.
Ini membuat saya berpikir, bagaimana saya mengidolakan manusia. Banyak orang begitu mengelu-elukan tokoh. Saya juga. Saya mengelukan pendeta saya. Saya mengangkat topi pada kehebatan berpikirnya. Kelancaran kreativitasnya yang tidak terbendung.
Saya seringkali menuntut idola saya sebagai sosok sempurna. Padahal, kita sama-sama manusia. Tidak luput dari salah: salah bicara, salah bertindak, salah memandang situasi, yah, salah. Bagaimanapun, tokoh itu hanyalah wujud pemikiran dari si Pencipta.
Wujud pemikiran Tuhan.
Lalu, kenapa saya lebih mengelukan tokoh daripada si Pencipta? Bukankah Aoyama Gosho jauh lebih hebat dari Detektif Conan? Ia yang merancangkan kasus, sekaligus pemecahannya, sekaligus intrik dan detil-detil karakter tokoh dan permasalahannya. Sedangkan tokoh itu sendiri adalah salah satu bagian dari rancangan besar Aoyama Gosho.
"Don't put your life in the hands of experts
who know nothing of life, of salvation life."
Psalm 146:3 (The Message)
"It is better to trust in the Lord than to put confidence in man.
It is better to trust in the Lord than to put confidence in princes."
Psalm 118:8-9
Saya jadi belajar, bahwa idola yang sesungguhnya adalah si Pencipta, bukan tokoh ciptaan. Betul, kan?
Tuhan. Ia yang seharusnya menjadi idola saya. Saya bukannya tidak boleh mengagumi ciptaan-Nya, justru mengagumi dan mengangkat topi itu bagus. Tapi kalau mengagumi ciptaan-Nya melebihi si Pencipta, oh saya bodoh. Kalau saya percaya pada tokoh melebihi saya percaya pada Pencipta tokoh, saya seperti berpegangan pada pohon toge.
IA lah pemilik rancangan besar itu. Sedangkan tokoh adalah hasil ciptaan si Pencipta yang berada dalam rancangan itu. Ibarat di dalam dunia komik, tokoh berada di dalam lembaran kertas buku komik, sedangkan si Pencipta sedang memegang buku itu dan membaca lembaran-lembarannya.
Saya seringkali sombong. Tuhan yang besar tidak saya hargai melebihi tokoh yang saya jadikan panutan. Padahal, kataNya, "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."
Saya bertanya sendiri.
Siapa pencipta tokoh? Tuhan.
Siapa pencipta scenery dan segala isi bumi, pohon, air, musim panas terik, tahun kering? Tuhan.
Tokoh hanyalah alat di tangan Tuhan untuk menyampaikan pesan, menjadi manifestasi dari pemikiran Tuhan. Sementara tokoh adalah juga manusia. Dan manusia akan mengecewakan, maka saya taruh harapan dan kepercayaan sepenuhnya hanya pada si Pencipta, bukan pada tokoh. Hormati tokoh, ikuti cara hidupnya. Tapi, hormati Tuhan jauh di atas tokoh. Karena Dia perancang segala cerita. Yang pangkalnya adalah kebaikan dan cinta.
Writter by VP











.jpg)


