Perempuan itu berusia 26 tahun. Saat berkelana di dunia maya, saya tak sengaja membaca catatannya di blog. Tulisannya berhasil menyita perhatian saya.
Aku mengingat-ingat 26 kali natal yang kulewati seumur hidupku. Hingga hari ini, aku masih belum menemukan jawaban tentang istimewanya malam natal. Bahkan, tidak ada sedikit pun petunjuk yang membedakan malam natal dengan malam-malam di hari biasa. Selain pergi ke gereja dan bersalaman saling mengucapkan selamat natal. Dan saat itu, gereja akan sangat membludak dan pundi-pundi amal akan sesak dipenuhi rupiah. That's it.
Apa itu Natal? Menjelang Desember, mal, pusat perbelanjaan dan perkantoran mulai dihiasi ornamen-ornamen Natal. Warna merah, hijau dan emas. Pohon cemara dengan hiasan gantungannya. Kaus kaki berwarna merah disematkan di dinding. Lampu kerlap-kerlip. Radio dan mal memutar lagu-lagu Natal.
Topi kerucut berwarna merah di atas kepala pria bertubuh tambun yang mengenakan setelan berwarna senada. Pada punggungnya tergantung karung berisi kado-kado. Laki-laki itu berjalan mengelilingi mal dan anak-anak kecil mengelilinginya. Anak-anak lebih memahami Natal sebagai Santa Claus atau Sinterklas dan kado ketimbang Yesus.
Anak-anak lebih memahami Natal sebagai Santa Claus atau Sinterklas dan kado ketimbang Yesus.
Buat Anda, Natal mungkin adalah musim “sale”. Kata itu tergantung dengan cetakan huruf super besar di outlet ternama, dengan tambahan “50-70%”. Laki-laki dan perempuan menyerbu barang-barang idaman mereka. Para suami menyeka kening yang berkeringat karena harus memberi uang belanja ekstra untuk istri dan anak mereka.
Atau, Natal adalah waktu untuk melarikan diri dari rutinitas yang menekan dengan bepergian. Entah ke luar kota atau benua seberang. Guru sekolah Minggu dan orangtua memang telah bilang, Natal itu merayakan kelahiran Yesus. Sang Juru Selamat. Sang Juru Damai. Mungkin perempuan ini telah mendengarnya waktu dulu di sekolah minggu. Tapi dia masih mempertanyakan arti Natal pada kalimat-kalimat di paragraf berikutnya.
What is Christmas? Where is the joy and peace of Christmas?
Dia benar. Di mana sukacita dan damai Natal? Setelah musim “sale” berlalu, orang-orang sibuk melunasi tagihan kartu kredit. Setelah libur berlalu, orang kembali sibuk bekerja. Berkutat memenuhi tabungan mereka. Anak-anak kembali sekolah. Mahasiswa kembali belajar dan bermain di tengah kuliah mereka. Apakah sukacita dan damai Natal ada pada “sale”? Ada pada pesta? Ada pada bersenang-senang dan melarikan diri sejenak dari kepenatan hidup?
Pada bulan Desember, mayoritas film-film yang diputar di bioskop dan televisi bercerita tentang keajaiban di masa Natal. Membuat kita berpikir, keajaiban hanya ada di saat Natal. Maka menjelang hari raya itu, orang-orang berbondong-bondong ke gereja. Atau memasukkan surat permohonan ke kaus kaki di depan pintu. Berharap pada lonceng gereja. Apa damai dan sukacita Natal itu? Di mana saya bisa mencari dan menemukannya?
***
Ps. Indri Gautama mengungkapkan, Natal adalah firman yang menjadi manusia. Yohanes 1 mengungkapkan bahwa Yesus adalah firman yang menjadi manusia. “Kelahiran Yesus adalah firman yang menjadi manusia, it’s Christmas,” kata Ps. Indri.
Dia menambahkan, Paulus juga mengatakan hal yang sama dalam Filipi 2:8. Dalam ayat itu, Paulus menggambarkan Yesus adalah seorang raja yang menanggalkan jubah raja dan mengenakan jubah budak. Yesus mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Yesus merendahkan dirinya dan taat hingga mati di kayu salib.
“Natal sebetulnya menggambarkan dengan jelas, cerita nyata tentang raja yang menukar jubah rajanya dengan jubah budak,” jelas Ps. Indri.
“Natal sebetulnya menggambarkan dengan jelas, cerita nyata tentang raja yang menukar jubah rajanya dengan jubah budak,” jelas Ps. Indri.
Bahkan, lanjutnya, raja majus yang datang pada saat kelahiran Yesus pun mengakui Dia adalah seorang raja. Para raja itu melihat bintang yang melesat di langit sebagai tanda kelahiran raja. Mereka tidak mencari bayi, tapi mencari seorang raja. Sebagai penghormatan, para majus itu membawa emas, kemenyan dan mur untuk penghormatan.
Lalu, apa kaitannya dengan kita? Kedatangan Kristus menukar jubah rajanya dengan jubah perbudakan dan kemiskinan. Kedatangan-Nya untuk membuat hidup kita merdeka dari kemiskinan, sakit penyakit, perbudakan.
Pernahkah membayangkan berada di posisi Maria? Melahirkan seorang bayi yang nantinya harus mati. Yesus adalah tanda cinta Allah untuk kita.
Apakah Yesus menikmati kelahirannya? Dia mengosongkan diri sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia Dia telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Yesus lahir untuk mati.
Lalu apa makna Yesus untuk kita?
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.- Yohanes 1:4-5
Ps. Indri menguraikan, ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki cahaya terang itu. Kegelapan seharusnya tidak menguasai kita. Kalau ada orang yang bolak-balik jatuh ke dalam dosa, dia tidak memahami makna Kristus. “Sekali kamu mendapat Kristus dalam hidup kamu, kegelapan tidak bisa menguasaimu. Kalau kamu masih jatuh berkali-kali ke dalam dosa. Kamulah yang membiarkan kegelapan itu menguasaimu. Kamu yang memberi dirimu pada dosa,” tuturnya.
Lalu, bagaimana semestinya respon kita atas tanda cinta itu?
Ps. Indri menuturkan, kita tidak bisa mengasihi seseorang tanpa memberi. Yesus adalah kasih. Dia memberikan diri-Nya sendiri sebagai kado bagi manusia. Seberapa berartinya Yesus bagimu? Apakah kamu melihat Yesus sebagai raja seperti raja majus itu? Do you love the King? How much do you love the King?
***
Mataku masih terpaku pada monitor komputer. Perempuan dalam blog itu seperti menjeritkan suara hatinya.
Aku terus mempertanyakan makna natal dan pergantian tahun. Bahkan, di setiap tahunnya. Seperti ada lubang besar di sini, dalam hatiku.
Saya yakin dia tak sendirian. Ada jutaan orang di luar sana yang mempertanyakan hal yang sama. Mungkin dia ibumu, ayahmu, kakakmu, adikmu, nenekmu. Atau, dia tetanggamu, temanmu, sahabatmu.
Maukah kamu berbagi makna Natal pada mereka? Sekedar meluangkan waktu, sambil minum kopi dan menceritakan bagaimana pertemuanmu dengan-Nya yang mengubah hidupmu?
Itu akan menjadi kado cinta yang luar biasa untuk Yesus. Sebab manusia berharga di mata-Nya. Untuk itulah Dia datang ke dunia.
***
written by NI











.jpg)


