"Confidence is the thermostat that regulates your degree of success in life (Dr. Keith Johnson)"
Tags: Confidence
"AMEN means I agree to all that God says YES in His promises. (AMIN artinya saya sepakat dengan segala yang Tuhan katakan YA di dalam janji-Nya.)"
Tags: Choice, Commitment
"Kesulitan adalah tanah yang bagus untuk pertumbuhan. Teman-teman kita membuat kita nyaman, tetapi musuh kita membuat kita kreatif."
Tags: Strength
"Perkataan Anda mempunyai kuasa untuk menciptakan dunia dan realitas Anda. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya."
Tags: Attitude, Confidence
"Why worry about a glass of water, while God gives you the ocean?"
Tags: Hope
Follow our updates via these services:
For general enquiries please email to: contact@indrigautama.org or call our office at (+6221) 2555 - 4646.
Kenikmatan dari kesombongan serupa dengan kenikmatan dari menggaruk rasa gatal. Memang jika ada rasa gatal kita normalnya ingin menggaruk, tetapi bukankah lebih baik jika tidak ada rasa gatal sama sekali sehingga tidak perlu menggaruk? Selama kita memiliki rasa gatal untuk penghargaan pribadi, maka akan ada selalu keinginan untuk menggaruk, dengan cara memperoleh persetujuan atau penghargaan dari orang lain.
Kapankah saat paling bahagia dalam hidup kita? Saat terbahagia dalam hidup kita adalah saat dimana kita melupakan betapa penting dan berharganya diri kita pribadi; saat kita melakukan seperti yang Yesus katakan: sangkal diri, pikul salib dan ikut Aku.– C.S. Lewis (diterjemahkan)
Saat kita beralih dari iman di dalam kasih karunia Tuhan yang tersedia bagi kita di masa yang akan datang (future grace) ke mengandalkan sumber-sumber kita pribadi, kita sudah jatuh ke dalam kesombongan. Salah satu manifestasinya adalah adanya kehausan untuk penerimaan atau penghargaan dari manusia. Ada suatu kebutuhan mendesak atau rasa yang bergejolak di dalam diri untuk diterima, disetujui, diakui, dipandang, dihargai, dihormati, dipuji, disanjung. Itu menjadi motivasi kita dalam melakukan segala hal. Tidak lagi kita melakukan sesuatu karena cinta kita akan Tuhan ataupun untuk kemuliaan-Nya, tetapi karena kita mencari kemuliaan yang dari manusia (human glory). Kita tidak puas sampai orang lain menyetujui, memuji, dan bertepuk tangan untuk kita.
kebutuhan [untuk approval] ini bagaikan rasa gatal yang harus digaruk agar mendapat kelegaan
Seperti yang C.S. Lewis katakan, kebutuhan ini bagaikan rasa gatal yang harus digaruk agar mendapat kelegaan. Namun kelegaan yang didapat dari memperoleh persetujuan atau penghargaan dari orang lain bersifat hanya sementara. Rasa gatal itu akan kembali dan menuntut agar digaruk lagi dan lagi; begitulah terus menerus seperti sebuah kecanduan. Keinginan yang amat sangat untuk memperoleh persetujuan dan penghargaan dari orang lain ini berada di level jiwa, dan akan semakin nyata ketika kesombongan tidak berhasil memperoleh apa yang diinginkannya dan mulai memperlihatkan kelemahannya. Ini bisa termanifestasi dalam bentuk mengasihani diri sendiri atau sayang diri, yang sebenarnya adalah kesombongan yang lemah (weak pride), dalam sikap menyombongkan diri (full pride), atau pura-pura rendah hati tetapi sebenarnya sombong (false humility). Semua ini adalah bentuk-bentuk respon diri yang sombong terhadap kesuksesan atau penderitaan.
Salah satu contoh bentuk kesombongan digambarkan Yesus di Matius 23:4-7, saat Ia mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi: Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang. Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
Apapun yang Anda lakukan, tanyakan pada diri Anda sendiri motivasi di baliknya. Apakah Anda melakukan hal tersebut karena Tuhan atau untuk kemuliaan Anda pribadi? Ketika kita mencari kemuliaan dari manusia, Tuhan cemburu, karena satu-satunya yang seharusnya dimuliakan hanyalah diri-Nya. Janganlah mencari penghormatan dari orang lain, tetapi carilah hormat yang dari Tuhan. Kepuasan kita seharusnya tidak bergantung pada apa yang orang lain katakan pada Anda atau lakukan untuk Anda. Kepuasan kita seharusnya hanya di dalam Tuhan. Fakta bahwa kita masih menginginkan pujian dan penghargaan membuktikan bahwa kesombongan di dalam kita gagal untuk memuaskan diri kita.
...orang-orang yang paling bahagia di muka bumi adalah mereka yang kehilangan diri mereka sepenuhnya dan memperoleh Kristus
Menurut Demos Shakarian, pendiri Full Gospel Business Men’s Fellowship, orang-orang yang paling bahagia di muka bumi adalah mereka yang kehilangan diri mereka sepenuhnya dan memperoleh Kristus, mereka yang tidak punya apa-apa namun memiliki segalanya di dalam Kristus. Hidup kita akan sangat menyiksa dan menyedihkan jika kita bergantung pada persetujuan atau penghargaan orang lain untuk kita merasa puas dan utuh. Selain itu, hal ini membuat kita tidak bisa sepenuhnya taat pada apa kata Tuhan karena kita selalu melihat ke orang lain dan bukannya ke Tuhan.
Dampak yang sangat mengerikan dari rasa gatal untuk dimuliakan oleh manusia adalah hilangnya kepercayaan kita di dalam future grace-Nya Tuhan. Saat ini terjadi, kuasa Tuhan yang luar biasa –yang menjadikan apa yang mustahil mungkin, yang membuat kita bisa mencapai level serta dimensi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya– tidak bisa nyata dalam hidup kita. Hidup kita sehari-hari sangat rentan jika kita semata-mata hanya mengandalkan sumber-sumber dari diri kita pribadi dan bukannya Tuhan. Tuhan tidak bisa mengintervensi di dalam hidup kita tanpa kita beriman di dalam-Nya; iman kita adalah tangan rohani yang menggerakkan Tuhan.
Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?– Yohanes 5:44
Jika Anda ingin menjadi besar di hadapan Allah, Anda tidak bisa menunggu orang lain untuk mendorong dan menguatkan Anda terus. Anda harus bisa menguatkan diri Anda sendiri dengan janji-janji Allah. Ketika diri kita penuh dengan Tuhan, kita tidak akan lagi mencari perhatian, penghormatan dan penghargaan dari manusia. Kita puas, karena Kristus adalah kepuasan kita. Kita yakin dan aman di dalam Kristus. Saat kita hampa dari kebutuhan terus-menerus untuk dihargai oleh orang lain, kita berjalan dengan iman di dalam future grace.
Saat itu, hidup kita tidak akan lagi penuh dengan kekuatiran, kepahitan dan emosi-emosi negatif lainnya, tetapi sebagai gantinya akan penuh dengan aliran-aliran air hidup, di hati kita terdapat sumber kehidupan yang akan terus mengalir sampai kekekalan (Yohanes 4:14).